Lomardasika's Blog

April 24, 2009

Rekomendasi Rute Perjalanan Bali

Filed under: Bali — lomardasika @ 8:12 am

Ada request dari teman, sobat, sahabat, rekan, kolega, sista (aaaawwwwww) Sdr. Arina Ully Wahyu Utami, untuk membuat rute.Yak! Saya sadari ini kekurangan saya dan saya akan membuat blog ini lebih berguna lagi dengan mengakomodir kebutuhan para pembaca :D. Oleh karena itu, saya persembahkan rute 5 hari 4 malam super dashyat non stop ini (mulai lebay) hahaha…

Hari pertama : kita main yang adem-adem dulu n jauh-jauh dulu yah berhubung waktu sampai tuh biasanya masih sueger…
- Sampai di Bali pagi hari
- langsung tancap gas ke Ubud
- Sebelum ke Ubud, biasanya akan sampai Pasar Sukowati sich. Tapi masak iyah mau belanja belanji sekarang? hehehe…lewat dulu yah.
- Sepanjang perjalanan sampai ke Ubud, anda akan bertemu dengan Desa Batu Bulan, tempat pagelaran tari-tarian Bali digelar. Yang paling terkenal tentu saja Tari Barong dan Tari Kecak. Lalu ada Desa Celuk dan Desa Mas yang terkenal dengan kerajinan peraknya (coba deh liat-liat ke Galuh) dan kerajinan ukir-ukiran. Belanjanya tahan dulu kali yah, secara masih pagi nich.hehehe…
- Sampai di Bali Bird Park. Harga tiketnya memang agak mahal sich, tapi kalau punya dana extra, masuk aja buat ngeliat bahwa Indonesia punya surga burung yang cantik juga loh. Burung-burung seperti Toucan, Macau, Lori, dll. Di sampingnya persis, ada Bali Reptil Park. Sesuai namanya, Bali Reptil Park menyajikan reptil-reptil dalam kandang maupun kurungan. Harga, Bali Bird Park 90K IDR Per Orang (Lokal). Bali Reptil Park 65K IDR Per Orang (Lokal). Kalau misalnya gak rela masuk ksini karena mahal, liat-liat dan foto foto dari depannya ajah. GRATIS!
- Lanjut lagi ke arah utara, maka anda akan bertemu dengan Hutan Monyet. Tertarik? Kalau nggak, lanjut saja…
- Kalau misalnya gak tertarik belanja, mungkin Ubud dan pasarnya gak akan menarik untuk anda. Tapi disini bisa liat berbagai galeri, kerajinan tangan, vila Ubud.
- Di dekat sini ada Goa Gajah, pintu masuknya sih unik dan keren buat foto foto :D
- Istana TampakSiring. Yah, seperti yang kita tahu, Istana Kenegaraan ini tentu gak mungkin bisa dikunjungi setiap saat. Coba deh hubungi sekertariat Istana untuk mengetahui syarat bisa masuk ke Istana ini. (biasanya ada syarat minimal sejumlah orang tertentu). Kalau nggak bisa yah coba deh ke Pemandian Pancuran Tampak Siring, lokasinya gak jauh dari Istana koq.
- Nah inilah dia tujuan ultimate di Bali pada hari ini. Danau Batur dan Gunung Batur. Usahakan sampai di Kubu Penelokan, Kintamani pada siang hari. Jadi, bisa makan siang di restoran buffet Internasional dengan view Gunung dan Danau Batur yang menawan. Kebetulan, pemandangannya spektakuler kalau nggak hujan. Bisa sambil foto-foto dan istirahat. Harga restoran Buffet di sekitar tempat ini berkisar 50K – 65K IDR per Orang. Puas deh makannya. Hati-hati, penjual dagangan di sekitar tempat ini sangat agresif dan memaksa. Tanpa bermaksud jelek, jaga barang-barang bawaan anda. Kalau misalnya memang gak berniat beli, jangan melirik, melihat, apalagi sampai memegang dan menawar harga produk mereka. Anda tidak akan dilepas semudah itu. Lebih baik, katakan tidak terima kasih dan segera berjalan ke mobil tanpa ba bi bu kalau gak berniat belanja.
- Sisa waktu masih panjang. Jalan deh ke arah utara, ke Singaraja. Disini ada Air Terjun Gitgit (masih gak terlalu jauh dari Kintamani). Jalan ke utara lagi ada Pantai Lovina, pantai yang terkenal dengan lumba-lumbanya di pagi hari. Kalau siang atau sore, mungkin anda nggak akan mendapatkan hal serupa.
- Usahakan pulang sebelum jam 3 atau 4 sore karena perjalanan ke selatan ke Legian masih cukup jauh. Sekitar 3-4 jam. Usahakan pulang jam segitu agar bisa makan malam di Legian.

Hari Kedua : Masih Mau lanjut yang adem-adem?
- Tancap gas ke Bedugul via Denpasar. Jalan-jalan kelilingan di Kota Denpasar ajah. Cari makanan Bali (sayangnya, makanan Bali kebanyakan berbahan baku babi seperti dendeng dan Babi Guling sehingga rawan dan haram bagi rekan-rekan yang muslim).
- Nanti akan lewat Mengwi. Di Mengwi ini ada Pura Taman Ayun. Boleh dilihat-lihat dan foto-foto. Di dekat sini ada Mandala Wisata Mengwi. Bisa foto foto di danau juga walaupun gak terlalu adem suhunya.
- Berhenti dulu di Pasar Candi Kuning buat merasakan tamparan angin segar menyapa wajah anda. Lihat tanaman, buah-buahan, dan kegiatan masyarakat disini. Siap-siap menggigil kedinginan karena tempat ini super dingin! asik buat jadi tempat resort dan peristirahatan.
- Akhirnya, sampai juga di Danau Bedugul. Buka kaca jendela lebar-lebar. Danau Bedugul ini sangat indah karena ada taman, danau yang berkabut dan Pura Ulun Danu yang rapih terawat. Habiskan waktu siang anda dengan berjalan-jalan di lokasi sini. Foto di Danau ini serasa kayak foto-foto postcard yang dijual di toko deh. Ada Cafe Ulun Danu juga untuk lokasi makan siang.
- Kembali ke arah barat daya pulau, kita menuju Alas Kedaton, tempat monyet-monyet. Selalu hati-hati karena dikabarkan monyet di Alas Kedaton sudah semakin nakal dari tahun ke tahun. Lepaskan perhiasan dan benda-benda mengkilat yang dapat menarik perhatian. Kacamata? Lupakan saja. Intinya, jangan mengenakan sesuatu kalau anda gak yakin bisa menjaganya dengan baik. Kamera dililit dengan tangan kuat-kuat jadi monyet tidak bisa mencurinya.
- Persinggahan terakhir adalah Tanah Lot. Keuntungan sampai di Tanah Lot adalah menikmati dua objek sekaligus dan juga menikmati matahari terbenam di sisi barat yang indah. Kalau anda beruntung, anda bahkan bisa berjalan ke pura tanpa kebasahan. Objek wisata yang ada disini adalah Pura Batu Bolong (batunya unik! Jangan lupa difoto!) dan Pura Tanah Lot itu sendiri yang super duper tersohor. Habiskan siang dengan melihat-lihat barang belanjaan dan sore dengan menikmati air kelapa muda di balkon pinggir pantai.

Hari Ketiga : Menuju Selatan yang Panas
- Yak! Kita berkunjung ke arah Tuban dan Bali Selatan. Sebelum itu, pas lewat di Kuta, mampir dahulu lah di Joger. Disini, barang-barang kerajinan Bali yang unik dan khas bisa didapat. Ayo, borong! Simpan kamera anda, di beberapa sudut Joger, dilarang untuk berfoto karena alasan tertentu. Tapi di depan Joger, please foto-foto sambil menikmati cuci mata melihat-lihat barang-barang unik dari Joger.
- Mau main olahraga air? Coba deh ke Benoa dan Nusa Dua. Kalau males basah-basahan, bisa berjalan-jalan aja koq di pinggir pantai. Olahraga air yang ada disini antara lain parasailing, banana boat, jetski, flying manta hingga kunjungan ke Pulau Penyu, tempat konservasi penyu. Disana bisa foto sama rangkong jinak, kura-kura dan penyu, ular dan beberapa binatang lain.
- Lanjut ke Garuda Wishnu Kencana, Taman Budaya Bali yang menawarkan pemandangan unik dan spektakuler serta ‘nyeni’. Disini, ada patung besar Garuda dan Wishnu yang sampai sekarang belum jadi. Cukup Panas, jadi siap-siapkanlah sunblock dan topi. Foto-foto diantara batu cadas yang terpotong akan memberikan kesan unik. Di GWK ini, sering dijadikan tempat perhelatan festival/event dashyat.
- Lanjut ke sisi selatan Bali di uluwatu. Pura sendi Bali ini memang berbeda dengan pura-pura lainnya. Lokasinya menawan di ujung tebing cadas tinggi. Nikmati laut selatan Bali dari ketinggian sambil menyaksikan ombak yang menerpa cadas di kejauhan di bawah sana. Hati-hati dengan barang bawaan anda juga, karena pura ini dilindungi oleh monyet-monyet. Jangan lupa, pakai pakaian yang pantas (kalau bisa menutup betis) karena pura adalah tempat suci.
- Penutup, coba deh sempatkan ke Pantai Kuta Baru atau yang dikenal dengan nama Pantai Pecatu. Belum kenal juga nama itu? Bagaimana kalau sebutannya Dreamland? mungkin kenal yah. Pantai ini dahulu pernah terkenal karena topless-nya turis-turis yang berjemur. Namun, sekarang fenomena itu sudah tidak ada lagi. Pantai ini dikelilingi batu cadas karang sehingga agak berbeda dengan pantai di bagian lain Bali.
- Sempatkan lewat Jimbaran untuk makan malam. Asik loh makan di pinggir pantai sambil mengunyah seafood dan melihat pesawat terbang lepas landang dan datang. Harga makanan disini agak uppriced, tapi worth koq sama suasana yang terbangun.

Hari Keempat : Yuk main air dan malas-malasan!
- Dari Legian, jalan kaki lah anda ke Pantai Kuta. Tidak terlalu jauh koq. Justru masih pagi, sempatkan untuk main air di seputaran Pantai Kuta.Nikmatilah saat-saat malas anda disini.
- Setelah hari mulai panas, baru deh jalan di sekeliling Kuta, ada monumen Legian dan Hotel Hard Rock Bali yang unik juga untuk difoto-foto. Walaupun secara teori, ini adalah sebuah hotel, namun tampaknya hotel ini telah menjadi semacam simbol dan landmark Kuta. Tak sah rasanya ke Kuta kalau nggak berfoto di depan papan surfing Hard Rock.
- Kalau panas banged, maen deh ke Kuta Square atau Bali Discovery Mall. Standrard seperti square atau mall biasa, namun anda bisa coba beberapa makanan disini. Kalau Discovery mall, ada semacam teater yang langsung terhubung dengan pantai. Mall dengan konsep yang unik.
- Bisa juga menghabiskan waktu di Waterbom Bali di depan Discovery Mall. Seru juga maen air disini. Harganya 130K per orang bisa sepuasnya!
- Menghabiskan sore dengan berjalan-jalan ke Pantai yang lebih tenang di Bali, yang nggak terlalu berisik seperti di Kuta. Bisa coba di sisi barat seperti Seminyak atau di sisi timur seperti Sindhu atau Sanur. Pantai Sanur lebih kalem suasananya karena memang mayoritas tamu yang ke Sanur dari kalangan keluarga. Asiknya pula, di sisi pinggir Sanur banyak café dan ada Pasar Sindhu di tepi Pantai Sindhu yang penjualnya gak begitu memaksa menjual.

Hari Kelima : Yuk Belanja Oleh-Oleh
- Saatnya berburu, sehabis makan pagi, arahkan kendaraan ke Guwang, Pasar Sukowati lama. Siapkan deh urat anda dan teknik melobi sehingga anda bisa mendapatkan harga yang diinginkan untuk produk-produk mereka. Pinter dan sabar cari adalah kuncinya. Anda bisa dapatkan barang bagus dengan harga miring disini. Mulai dari Lukisan, Kerajinan tangan, oleh-oleh souvenir, pakaian, dan peralatan lainnya.
- Kalau masih ingin jalan-jalan, sempetin deh ke Pura Besakih di sisi Timur Bali, di kaki Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali.
- Jangan lupa belanja oleh-oleh makanan juga. Di dekat Desa Celuk, banyak deretan toko-toko souvenir dan makanan yang menjual kacang Bali, dan makanan lain yang khas Bali. Jangan lupa diborong yak.
- Ingat! Hari ini adalah hari check out. Jangan sampai ada barang yang ketinggalan. Siapkan 1 jam sebelum sampai di Bandara

Desember 30, 2008

Waiting For Tonight at Kuta Square and Starbucks Kuta

Filed under: Bali — lomardasika @ 4:27 am

Asyik juga menunggu detik-detik pergantian tahun di Bali. Tentu, Kuta adalah magnet dan juga pusat acara pergantian tahun di Bali dan mungkin juga di Indonesia Tengah? Buat yang mau ngerayain ganti tahun di Kuta dan sekitarnya, sebaiknya mulai jalan dech ketika matahari mulai condong ke arah barat dan siap untuk terbenam. Siap-siap aja untuk terjebak macet di Simpang Siur (actually, mulai dari siang pun bisa dipastikan semua orang akan terjebak macet di persimpangan ini). Segala macam taksi, kendaraan dan orang akan lalu lalang memenuhi daerah ini. Siap-siap aja merasakan histeria dan denyut spirit perayaan masyarakat Bali dan warga Dunia (lihat aja yang berseliweran, malah didominasi oleh warga kaukasian, hispanik dan asia timur). Nah, lalu, setelah sampai di Kuta, gak usah bingung buat ngabisin waktu. Yakin dech, 6-7 jam menunggu disini gak akan membuat satu detik pun elo akan mati gaya. Terlalu banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Kuta dan Legian selama menunggu. Kalau jadwal gue, ketika matahari mulai terbenam, mulai dari pukul 5 hingga 6 bahkan 7 (terkadang, pukul 7 di Bali masih lumayan terang) adalah menyambangi Pnati Kuta dan membaur dengan ratusan (ribuan?) turis lokal dan dunia untuk bersantai di bibir laut tersebut. Nikmati Tato temporer, kepang rambut, dan kalau sempat, bermain dengan ombak-ombak yang berkejaran berbarengan dengan turis-turis lainnya. Inget aja, anginnya bakalan kenceng banget!
Nah, seusai matahri terbenam, berbondong-bondong turis akan meninggalkan pantai dan memenuhi pusat hiburan lain di seputaran Kuta. Ngisi perut dulu donk! Banyak café dan restoran baik bintang lima hingga kaki lima yang tersebar di Kuta dan Legian. Mau makanan murah-meriah, coba dech cari di dalam gang-gang poppies yang hangat hingga ke Kuta Square. Mau cari yang sedikit berkelas? Jelajahi Kuta Square, Kartika Plaza hingga Discovery Mall untuk memenuhi teriakan perut anda yang minta diisi. Pilihan malam itu jatuh ke Dulang Café yang berada tepat di tengah-tengah Kuta Square. Dulang Café menyediakan ragam menu internasional dan cenderung agak oriental. Menu Ayam Kung Pao-nya boleh dicoba.
Makan nggak sampai 1 jam donk? Selepas makan malam, anda punya dua pilihan, berkunjung ke dalam mall Discovery atau menikmati histeria di seputaran Legian. Saya memilih keduanya! Selama kaki masih asyik untuk diajak berjalan, saya rela melakukan keduanya. Khusus di Legian, Monumen Bom Bali cukup diterangi cahaya dan masih banyak turis berfoto di lokasi sehingga masih masuk daftar lokasi yang wajib dikunjungi sekaligus mendoakan korban bom yang tewas pada malam 12 Oktober 2002 lalu. Nggak lupa untuk cuci mata dengan club-club di pinggiran Legian yang hip banget sampai vintage banget, kemudian masuk keluar distro-distro pantai yang terkadang malahan meng-garage sale produk mereka. Nggak kalah dengan produk luar, toko-toko souvenir di sepanjang Legian juga cukup unik untuk disambangi. Bisa nich sekalian sambil melihat-lihat produk kerajinan tangan seperti miniatur alat musik yang lucu.
Nah, sudah jam 10. Tentu, denyut kehidupan Bali terutama Kuta di saat malam pergantian tahun tidak berhenti di waktu ini. Setelah capai berjalan kaki, saatnya untuk duduk dan meregangkan kaki yang berjasa selama perjalanan di Bali. Café untuk leyeh-leyeh menjadi tujuan utama untuk duduk dan bersantai. Sudah pasti, ngomongin kopi, pasti langsung keluar satu nama : Starbucks. Ya, ada Starbucks di Kuta Square. Lokasi di depan Starbucks cukup lucu untuk dijadikan arena berfoto. Disini, terdapat sejumlah papan surfing yang menarik dan dapat diabadikan. Meregangkan kaki cukup sekitar satu hingga satu setengah jam. Jangan sampai anda melewatkan detik-detik pergantian tahun karena terkungkung di dalam café. Saya memesan Double Shot Espresso Macchiato. Agak keras dan tampaknya saya salah memilih untuk menemani malam saya. Tidak apa-apa, sofa empuk, majalah, dan teman-teman yang ramai cukup membantu memeriahkan suasana. Agak sedikit sukar mendapatkan kursi di jam-jam seperti ini. Pastikan bahwa rombongan anda mendapatkan tempat di Starbucks. Semua orang memiliki pikiran yang sama pada malam ini, bersantai sebelum keluar dan menikmati detik pergantian tahun.
Sudah beli terompet untuk dibunyikan? Kalau sudah, silahkan keluar dan bergabung bersama ratusan (ribuan?) orang warga lokal, turis lokal, dan turis mancanegara untuk merayakan pesta pergantian tahun di Bali dan Indonesia Tengah. Silahkan pilih spot termenarik yang menurut anda layak untuk anda pantengin hingga Tahun Baru tiba. Nikmati tarian Bali dan gamelan, konser musik, hingga pesta kembang api di lepas pantai. Siapkan tangan anda untuk menyambut ucapan selamat tahun baru dari turis-turis yang melintas. Selamat Tahun Baru!

Desember 27, 2008

Discovery Mall, Mall di Kartika Plaza dengan Konsep Pantai

Filed under: Bali — lomardasika @ 2:49 am

Mall ini terlihat jelas di Jalan Kartika Plaza, Kuta di jalan yang menuju arah Tuban. Mungkin, dari sejumlah Mall, mall ini yang sudah masuk dalam kategori mall mewah di Bali. Terletak persis di depan Waterbom Kuta, akses menuju Discovery Mall sebenarnya tidak terlalu sulit. Dengan jalan kaki pun (jalan kaki sehat pastinya) anda sudah bisa mencapai mall ini. Berjalan kakilah dari arah Kuta, melewati Kuta Square, hingga ke pasar seni yang banyak menjajakan tato temporer. Nah, anda sudah sampai di Jalan Kartika Plaza. Berjalan kaki lagi menyurusi jalanan tersebut, maka anda akan melihat mall tersebut di sisi kanan. Lama waktu perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 20 menit.
Isi dari mall ini tentu saja tidak begitu menarik untuk dibicarakan. Hampir serupa dengan mall-mall yang ada di kota besar lainnya, mall ini memiliki sejumlah restoran yang cukup terkenal, café, butik dan sejumlah tenant lainnya. Ya, tempat ini dipenuhi oleh kawula muda Bali yang ingin menghabiskan malam hari mereka di dalam mall. Uniknya dari mall ini adalah di salah satu sudut pintu keluar mall, anda langsung akan terhubung dengan pantai. Ya, Discovery Mall terhubung langsung dengan Samudera Hindia disisi barat Pulau Bali. Pantai ini menjadi area favorit orang untuk bersantai dibandingkan dengan lokasi di dalam mall. Terkadang, lokasi pelataran sebelum pantai digunakan untuk konser atau pagelaran pertunjukkan musik, seni dan budaya. Bagi saya, mall hanya patut dikunjungi pada malam hari ketika semua lokasi wisata lainnya yang hanya beroperasi pada saat matahari terbit hingga terbenam. Dengan kata lain, kita tidak terjebak di mall pada siang hari dan bisa menghabiskan malam hari di Bali dengan berkunjung ke mall Bali. Maka, pengorganisasian waktu kunjungan di Bali akan menjadi sangat optimal.

Desember 26, 2008

Ayo, Jalan-Jalan Ke Dreamland, Si Pantai Pecatu, Uluwatu

Filed under: Bali — lomardasika @ 7:50 am

Ini dia, si Kuta Baru atau Pantai Pecatu yang ramai dibicarakan orang-orang karena sempat dikenal sebagai pantai topless. Terletak di Jalan Raya Uluwatu, selepas GWK, Ungasan, sebelum Uluwatu, pantai ini memang tidak terlihat dengan jelas dan tidak akan menarik banyak orang apabila anda belum pernah mendengarnya. APabila anda berjalan dari arah Ungasan ke selatan menuju Uluwatu, maka di sebelah kanan anda nantinya akan terlihat seperti sebuah kompleks perumahan besar, lengkap dengan patung-patung besar khas Bali (salah satunya Garuda Wishnu Kencana) namun sangat jelas terlihat bahwa perumahan tersebut terlantar. Hal ini terlihat dengan jelas dari kondisi dinding perumahan tersebut yang tidak dicat, tidak tampak adanya progress pembangunan di dalam kompleks dan juga bagain dalam kompleks yang terlihat jelas lebih didominasi oleh tanaman dan rumput liar dibanding perumahan.
Alkisah, waktu jaman kekuasaan Presiden Soeharto pada masa itu, anak beliau yakni Tommy Soeharto hendak membangun sebuah kompleks perumahan mewah yang disebut-sebut sebagai Dreamland di daerah Pecatu. Maka, daerah yang anda lihat tadi adalah lokasi dimana pembangunan perumahan tersebut berdiri. Sayangnya, ketika masih dalam tahap awal pembangunan kompleks tersebut, Indonesia diterpa krisis dan Presiden Soeharto digulingkan dari kekuasaan. Maka, berakhirlah kekuasaan Presiden Soeharto kala itu dan berakhirlah pula proyek-proyek pembangunan yang ada di seluruh Indonesia, terutama yang dikerjakan oleh anak-anak dan kerabatnya, salah satunya adalah Kompleks Perumahan Mewah Dreamland yang disebut-sebut ini. Kompleks ini, direncakan akan sangat mewah karena akan digunakan sebagai resort pantai dengan segala fasilitas bintang lima dan tidak ketinggalan club dan, konon, kasino. Pokoknya, kompleks ini direncakan sebagai lokasi peristirahatan sekaligus hiburan bagi kaum berpunya. Sayangnya, kompleks ini tidak pernah terwujud dan tidak akan pernah terwujud, setidaknya hingga saat ini. Kompleks tersebut masih sama kondisinya seperti waktu pertama kali ditinggalkan, mungkin lebih parah dengan hancurnya beberapa bagian dan tanaman liar yang semakin tumbuh banyak.
Namun, akses perumahan Dreamland menuju Pantai Pecatu yang juga disebut-sebut sebagai Kuta Baru, tempat kaum jet set bersantai tetap terbuka. Lokasi Pantai Pecatu ini terletak cukup jauh dari bibir gerbang pintu masuk. Sangat masuk akal untuk menjelaskan mengapa pantai ini tidak terlalu tenar. Anda harus berputar-putar di dalam kompleks sambil menyaksikan proses pembangunan yang terhenti. Namun, selang beberapa lama kemudian, ada sebuah pos jaga yang bertuliskan tiket masuk. Tiket masuk ke pantai ini cukup murah, hanya Rp. 5.000 per orang dan kendaraan Rp. 5.000. Tidak beberapa lama lagi, anda akan sampai di lokasi parkiran yang berhadapan langsung dengan pantai spektakuler ini. Pantai ini terletak jauh di bawah lokasi parkiran. Satu-satunya akses menuju pantai adalah ratusan anak tangga alami yang dapat anda turuni hingga mencapai bibir pantai. Beberapa restoran dan penginapan kecil-kecilan dapat anda temui di sisi pantai. Selepas itu, sampailah anda di Pantai Pecatu.
Ya, saya tidak bohong. Pemandangan pantai ini sungguh luar biasa. Pasirnya putih dan sangat tebal hingga membuat sukar berjalan, fondasi batu karang besar di pinggir pantai mengingatkan kita bahwa kita berada tidak jauh dari pantai tebing Uluwatu. Formasi batu-batu karang besar juga menghiasi bibir pantai, menghadirkan pemandangan unik yang menarik. Para pelancong yang sampai ke tempat ini kebanyakan melakukan kegiatan berjemur dan bermain air. Sayang sekali, isu turis topless ternyata sudah ketinggalan jaman. Turis tersebut topless ketika pantai ini belum terlalu dikenal orang. Sekarang, setelah Pantai Pecatu mulai naik pamor, semakin sedikit turis yang bertopless ria. Namun, konon, katanya anda bisa berjumpa dengan turis yang topless saat pagi-pagi atau saat sepi lainnya. Berminat barangkali?
Kebanyakan turis yang sampai ke tempat ini justru didominasi oleh anak muda lokal Bali. Jarang diantara turis yang berkunjung menggunakan mobil. Kebanayakn justru menggunakan sepeda motor berboncengan dengan temannya guna sampai ke pantai ini. Walaupun demikian, sejumlah turis asing – walaupun tidak sebanyak Kuta- akan dengan mudah anda temui di pantai ini. Satu lagi, pantai ini katanya terkenal dengan keindahan sunsetnya sehubungan dengan lokasi yang menghadap arah barat. Sayangnya, ketika saya berada disana, awan tebal menutup matahari sehingga saya tidak bisa memutuskan apakah sunsetnya indah atau tidak. Buat anda yang ingin berkunjung ke Pantai Pecatu atau Pantai Kuta Baru atau Pantai Dreamland (umumnya nama ini yang paling terkenal), jangan lupa perhatikan jalan ketika anda sudah melewati Ungasan, sebelum sampai di Uluwatu, ketika berada di daerah Desa Pecatu. Patung Garuda Wishnu Kencana kecil (tidak sebesar yang di GWK) akan menyambut anda di pintu gerbang perumahan Dreamland.

Desember 18, 2008

Menyebrang ke Pulau Penyu dari Tanjung Benoa

Filed under: Bali — lomardasika @ 3:43 am

Sudah seperti keharusan, walaupun kunjungan kali terakhir saya nggak sampai ke lokasi ini, Pulau Penyu adalah bagian dari wilayah Tanjung Benoa, tempatnya water sporting. Kunjungan ke pulau (katanya sich pulau, tapi sebenarnya ini merupakan wilayah daratan yang memang lebih sukar dicapai dari daratan Bali) memakan waktu kurang lebih sekitar 15 hingga 30 menit dengan speed boat glass bottomed yang berkapasitas 8 hingga 10 orang. Biaya perjalanan cukup bervariasi, namun pada umumnya, penyewaan perahu ini tergolong cukup murah karena dapat ditanggung beramai-ramai. Apabila anda pergi sendirian, yach berharaplah ada serombongan turis yang masih kelebihan sisa space tempat duduk di kapal :)
Jadi, selain water sporting, buat anda yang tidak mau berbasah-basah ria, boleh deh cobain Pulau Penyu ini. Ya, kegiatan ini hampir bisa dipastikan akan membuat anda terbebas dari air, kecuali paling jauh air semata kaki anda yang akan anda jumpai saat naik ataupun mendarat di pantai. Hampir semua operator di Tanjung Benoa menawarkan jasa ini. Sudah tentu, berbeda operator, berbeda pula lokasi penangkaran penyu yang akan disambangi di pulau tersebut. Namun, perbedaan operator tersebut tidak akan membuat kunjungan anda menjadi sedikit lebih seru atau sedikit kurang seru. Hampir semua lokasi penangkaran memiliki fasilitas serupa. Jadi, tidak masalah apabila tidak ke tempat penangkaran A, karena tempat penangkaran B juga memiliki fasilitas tersebut.
Perjalanan dimulai pada umumnya setelah glass bottomed speed boat tersebut penuh. Speed boat tersebut dirancang berdasar kaca guna penumpang dapat melihat bagian bawah air yang katanya, menawarkan keindahan biota laut (sayang sekali, tiga kali sampai di Tanjung Benoa, dua kali naik speed boat ini, dua kali pula saya tidak melihat warna warni kehidupan laut di Tanjung Benoa ini. Yang terlihat hanyalah sejumput ikan berukuran sedang berwarna hitam, putih dan sedikit yang berwarna, tanpa karang, memakan roti yang kami bagikan (roti akan dibagikan oleh operator). Entah apakah ini karena airnya keruh atau memang Tanjung Benoa sudah cukup rusak, who knows?!). Ya, anda dan rekan-rekan akan berhenti di tengah-tengah perjalanan untuk melihat kondisi alam bawah air di seputar Tanjung Benoa. Puas melihat-lihat dan memberi makan, speed boat pun dipacu kencang lagi guna mencapai Pulau Penyu.
Ya, turun dengan hati-hati dan siap-siap meminta bantuan Bli yang bertugas untuk menurunkan anda. Hampir di semua lokasi penangkaran, hewan yang ditangkarkan umumnya seragam, mulai dari yang standard seperti penyu (tentu saja! namanya saja Pulau Penyu!), kura-kura, ular, burung rangkong (hornbilled), beberapa jenis burung-burungan, buaya kecil dan sejumlah mamalia aneh yang mungkin agak jarang anda dapatkan. Seusai melihat-lihat dan berfoto (hati-hati, jangan pernah mencoba mengangkat tukik (anakan penyu) karena ini dapat mengancam kehidupan mereka) anda akan sampai di bagian akhir tempat konservasi yang berupa rumah makan plus tawaran lagi untuk berfoto bebas dengan burung-burungan, ular (mulutnya disolasi) dan beberapa jenis hewan lainnya. Seusai berfoto dengan hewan-hewan tersebut, silahkan lepaskan penat dengan memandang ke arah laut lepas sambil menikmati minuman segar (tentu saja, kelapa muda yang seharusnya jadi pilihan). Harga makanan dan minuman di lokasi cukup bersaing dan tidak terlampau mahal. Jangan lupa, seusai anda berjalan-jalan di Pulau Penyu, sisihkan sebagian budget jalan-jalan anda untuk memberi bantuan dana pada lokasi konservasi ini (terdapat kotak sumbangan di pintu keluar) karena, tentunya mengharapkan tiket masuk dan penyewaan speed boat saya tidak akan terlalu banyak membantu tempat konservasi ini. Apabila anda masih ingin melihat hewan-hewan ini pada kali berikutnya kunjungan anda, sebaiknya anda membantu dengan menyumbang demi terciptanya kelangsungan hidup mereka.
Sudah selesai? tunggu dahulu, hiburan belum berakhir. Waktu satu jam yang anda habiskan di pulau akan ditambah lagi guna berhenti di lautan lepas. Sama seperti kedatangan, anda akan menikmati ikan-ikan yang berlarian bebas di bawah kapal sambil berebutan roti yang anda bagikan. Cukup asyik juga untuk anda yang tidak puas membagi roti ke ikan pada saat kedatangan. (Walaupun lapar, jangan coba coba mengkonsumsi roti yang dibagikan ke ikan-ikan tersebut. Tampaknya rotinya memang hanya untuk konsumsi ikan, bukan manusia). Sedikit saran lainnya adalah jangan lupa untuk mengenakan sunblock agar kulit anda terhindar dari sinar matahari dan sinar UV yang merusak selama kunjungan di Pulau Penyu. Nah, hati riang, kulit pun tetap terjaga.

Desember 17, 2008

Nyeni di Pasar Ubud

Filed under: Bali — lomardasika @ 3:57 am

Terus terang, gue bukan orang yang sangat berseni. Maka dari pada itu, Ubud mungkin gak masuk dalam list kunjungan yang harus dicapai saat gue ke Bali. Ya, cerita mengenai Ubud memang selalu berkaitan dengan tempat paling ‘nyeni’ di Bali. Mulai dari arsitektur rumahnya, galeri seni, pusat kerajinan tangan, hingga villa villa kaya yang dibangun di Ubud. Ya, Ubud is not for me, I have said to myself.
Namun, berhubung lokasinya di Bali tengah, pusat dari segala arus lalu lintas yang mau ke lokasi-lokasi wisata lain di Bali. Kayaknya mau nggak mau, Ubud pun pasti akan terlewati juga. Mau ke Timur atau Barat, umumnya lewat Ubud. Mau ke Gunung Agung, Gunung Batur, atau Danau Bratan, pasti lewat Ubud. Yah, walaupun ada jalan lain, tapi Ubud ini yang kayaknya paling umum untuk dilalui dech.
Oleh karena itu, daripada penasaran, akhirnya kita turun juga dech di Ubud (berhubung juga anggota rombongan mau ke Ubud). Tujuan kami di Ubud bukanlah galeri seni, villa mahal dan mewah ataupun lokasi pusat kerajinan tangan. Kami menuju Pasar Ubud, selepas berkunjung ke SUkawati. Yach, hitung-hitung sekaligus melihat-lihat kemungkinan ada barang yang tidak terdapat di Sukawati Guwang.
Turun dari kendaraan, langit tampak tidak bersahabat dengan kami. Rintik-rintik air hujan mulai membasahi bumi walaupun hanya sekedar gerimis saja. Alhasil, kami sekaligus berteduh di Pasar Ubud. Melihat dari keramaian yang dimilikinya dan perjualnya, secara cepat dapat saya simpulkan bahwa Pasar Ubud bukanlah pasar yang ramai (walaupun Pasar Ubud adalah salah satu pasar seni utama di Bali). Yap, siang itu hanya terlihat segelintir orang yang berbelanja di Ubud, jauh berbeda dengan SUkawati. Karakteristik ini juga dapat dilihat dari penjual (ning-ning) yang tidak agresif dalam menjual produknya (misalnya ketika saya melintas untuk melirik saja, bahkan mereka cenderung cuek dan menyapa kami). Kemudian soal harga, yach memang harga yang di buka cenderung lebih tinggi dibanding SUkawati. Namun, saya berhasil menawar essential oil hingga harganya sama (ya eyalah…kan produknya juga sama) dengan di Sukawati.
Apabila bangunan Sukawati cenderung lebih fokus untuk kegiatan perniagaan, maka Ubud masih memiliki nilai spiritualnya dengan bentuk bangunan Bali lama yang berukir-ukir macam candi dan potongan candi lama. Di sisi bangunannya pun terdapat sebuah pohon besar yang tampaknya dikeramatkan (karena dililit oleh kain khas Bali). Hingga sisi dalam dan pinggir bangunan dan bekas candi pun diisi oleh kios kios pedagang barang-barang seni untuk souvenir. Teman saya membeli beberapa buah papan surfing Bali di bagian pojok pasar ini.
Hujan yang tadi membesar seiring dengan kegiatan kami melihat-lihat pasar telah berhenti dan bahkan cenderung reda. Kami sempat berfoto-foto dengan bangunan-bangunan unik dan antik yang terdapat di luar wilayah pasar. Ya, kini saya percaya, Ubud adalah Bali yang sungguh-sungguh Bali.

Desember 5, 2008

Pantai Sindhu a.k.a Pantai Bonsai Café di Selatan Sanur

Filed under: Bali — lomardasika @ 9:39 am

Sebenarnya nama ini kayaknya merupakan penamaan lokal untuk pihak tertentu yang mengelola bagian dari Pantai Sanur. Yap, Pantai Bonsai Café atau Pantai Sindhu sebenarnya masih merupakan bagian dari Pantai Sanur di bagian timur Bali. Dengan jarak sekitar 15 menit waktu tempuh dengan kendaraan shuttle dari Hotel, berkunjung ke Pantai Shindu cukup mengasyikkan juga. Buat anda yang tidak menginap di Sanur Plaza Hotel, mungkin kunjungan ke pantai ini tidak akan pernah terpikirkan. Begitu juga dengan saya.
Namun, berhubung saya menginap di Sanur Plaza Hotel, dan ada fasilitas shuttle bus gratis dari Hotel menuju Suite Hotel, Hardy’s Shop dan Pantai Bonsai, maka iseng-iseng buat mengisi waktu, pilihan ke Pantai ini pun dibuat.
Dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh dan masih merupakan bagian dari Sanur, Pantai Sindhu ternyata menawarkan sejumlah kelebihan diantaranya berupa kondisi pantai yang tenang, unik dan akomodasi yang memadai. Sebagai contoh, pada beberapa bagian pantai, terdapat batu batu besar bulat yang memenuhi pantai sehingga memebntuk semacam tanggul sebelum kita dapat mencapai pantai yang sebenarnya. Terdapat pula semacam gazebo di dekat pantai sehingga kita bisa berfoto-foto (tentunya) dan menikmati santap malam disini (mungkin bukan malam, tapi pagi atau siang kali yach?!). Beberapa bagian pantai cukup landai dan dipenuhi oleh perahu-perahu nelayan yang cantik dan berwarna-warni, sesuatu yang agak sulit ditemukan apabila kita berkunjung ke Kuta. Kelebihan lainnya, pantai ini sangat sepi mengingat kunjungan wisatawan sudah dapat dipastikan tersedot ke Pantai Kuta.
Lapar atau capek? jangan kuatir, jejeran hotel dan resort seperti salah satunya Bonsai café dan SAnur Plaza Suite terletak di tepi pantai ini (dilengkapi dengan bangku bangku pantai untuk berjemur pula!). Yap, sepanjang menyusuri pinggiran pantai, saya menemukan sejumalh restoran, baik yang berkesan mahal ataupun yang tampaknya dikhususkan untuk backpacker dengan tarif yang murah meriah.
Berjalan lebih ke arah utara, maka sekarang saatnya untuk memanjakan mata dengan jualan khas pasar. Ada Pasar Sindhu di bagian utara pantai ini. Berkorelasi dengan sepinya pantai, pasar ini juga sepi. Beberapa ning cenderung duduk-duduk di depan kiosnya dan tidak terlihat terlalu agresif juga dalam menawarakn dagangannya. Hal ini sangat berbeda apabila anda pernah berjumpa dengan pedagang dari Legian atau Sukawati. Namun, kehidupan masih bergerak di pasar oantai ini, sejumlah wisatawan dengan keluarganya masih setia dengan pantai Sindhu yang tenang dan syahdu.
Penasaran dengan pantai yang namanya tidak terlalu terkenal ini? coba deh jalan sekian kilometer ke arah bawah dari Jalan Raya Bypass Ngurah Rai dari Sanur. Selang berapa jauh, nanti anda akan bertemu pintu masuk Bonsai café. Nah, sebelum masuk ke Bonsai Café ini anda akan disuguhi dengan berpot-pot pohon bonsai. Sempetkan foto-foto disini. Nah, setelah selsai berfoto dan memasuki sebuah restoran, Pantai SIndhu sudah terbentang di depan anda.

November 24, 2008

Kuta Kuta Kuta!

Filed under: Bali — lomardasika @ 4:28 am

Yak, inilah salah satu pantai di Bali yang sudah menjadi trade mark Bali, bahkan dari awal tahun 1980-an serta sudah tersohor ke seluruh dunia. Pantai ini bahkan menjadi panduan nama untuk pantai-pantai lainnya seperti Kuta Baru di Pecatu sana(lebih selatan lagi, arah Uluwatu). Diklaim sebagai daerah yang sangat over-komersialisasi dan ditulis-tulis di buku-buku wisata sebagai kantung jebakan turis, namun entah mengapa, Bali bukanlah Bali kalau belum menuju Kuta. Di pantai inilah terletak riuhnya suasana pariwisata Bali yang asli. Pantai-pantai yang dipenuhi oleh turis asing dan pemuda lokal serta mancanegara berselancar bersama, ibu-ibu mengepang rambut serta ada jasa tato temporer 2 minggu maupun penyewaan surfing board dan ban renang. Kuta ditulis sebagai kantung jebakan turis karena sepanjang pantai ini, hanya terdapat deretan hotel-hotel mahal yang berbintang-bintang sehingga cukup jelas mengapa Kuta dituding sudah sangat over-komersialisasi (bahkan dari tahun 1980-an awal). Namun sekali lagi, Bali bukanlah Bali kalau belum sempat berkunjung ke Kuta.
Terletak di ‘betis’ Bali sisi sebelah barat, dengan hamparan pasir putih yang agak-agak bernuansa kotor (mungkin karena diinjak oleh terlalu banyak pengunjung), Kuta memang barometer pariwisata di Bali secara keseluruhan. Saya pernah di Kuta pada awal Januari 2003, tiga bulan setelah bom besar mengguncang Bali. Kuta tidak ada bedanya sama sekali seperti pantai-pantai lokal yang ada di daerah. Sangat sulit menemukan pengunjung mancanegara, walaupun masih ada satu dua orang. Sepinya Kuta masuk dalam kategori unbelievable. Syukurlah, sekarang situasi pariwisata Bali sudah kembali sehingga perlahan-lahan Kuta kembali ramai dan inilah dia Bali yang sesungguhnya.
Sangat mudah menuju Kuta karena inilah jantung Bali. Umumnya, para turis yang baru saja keluar dari bandara akan menuju lokasi ini guna menemukan penginapan. Sangat logis mengingat dari Kuta, akses jalan ke hampir semua penjuru Bali sangat mudah ditemukan. Hampir semua lokasi wisata di Bali berpatokan jarak dari Kuta atau Denpasar. Hal lainnya tentu saja dari sisi akomodasi. Seperti memisahkan sehelai jerami dan sebatang jarum, menemukan penginapan dan restoran di Kuta adalah piece of cake. Apabila anda tidak terkesan dengan hotel-hotel mahal di sepanjang Pantai Kuta seperti Mercure, Hard Rock Hotel, dan Sahid, anda bisa beranjak masuk ke bagian gang yang agak dalam (paling populer tentu saja Legian dan Poppies I dan II) guna menemukan hotel, losmen, maupun penginapan yang very budget-travel. Yup, sangat direkomendasikan anda menginap di sisi Bali yang ramai ini (kecuali jika anda memang mencari ketenangan bulan madu dan lainnya) agar perjalanan anda ke bagian Bali yang lain mudah terjangkau.

November 21, 2008

Minggir Sebentar di Patung Satria Gatotkaca, Tuban, Bali

Filed under: Bali — lomardasika @ 6:49 am

Berhubung waktu check in pesawat yang masih lama, tapi kami sudah on the way menuju bandara Ngurah Rai selepas dari liburan yang singkat, maka sempat-sempatnya kami membuka mata lebar-lebar guna mencari objek menarik apa yang masih bisa ditemukan di jalanan menuju bandara. Untungnya, sebelum masuk ke areal bandara, ada sebuah tugu yang dikelilingi taman yang tamapknya menarik untuk dijadikan tempat perhentian sementara sebelum terjebak di dalam bandara menunggu pesawat take-off.
Sebuah monumen/patung besar yang dikelilingi taman di sekelilingnya pastilah tampak mencolok mata karena berada di sebelah kanan jalan dalam perjalanan anda menuju bandara. Patung Satria Gatotkaca itu namanya. Diresmikan pada tanggal 31 Oktober 1993 oleh Gubernur Bali saat itu, Prof. Dr. Ida Bagus Oka (semuanya ini tercantum di bagain depan monumen). Patung di tengah-tengah taman ini tampaknya mengisahkan pertempuran Gatotkaca yang naik kereta kencana yang ditarik oleh beberapa ekor kuda. Tampak, Gatotkaca sedang memanah menuju entah ke siapa (maaf, saya agak lemah soal ilmu pewayangan). Sekeliling patung tersebut harusnya akan disembur oleh air mancur (ada kolam di sekeliling patung) tapi malam itu air mancurnya tidak aktif. Di sekeliling kolam terdapat hiasan berbentuk kepala gajah dengan ukiran ukiran rumit khas Bali (Gajah Mada kah? maaf kalau salah, lagi-lagi soal pengetahuan dunia pewayangan yang lemah). Sayangnya, selain sudah malam sehingga hasil fotonya tidak terlalu bagus, patung tersebut tampak kurang semarak walaupun pada beberapa bagian patung terdapat hiasan lampu panjang yang berwarna merah. Di sekeliling taman sendiri terdapat sejumlah patung yang berfungsi untuk menandakan areal masuk atau keluar taman. Dirimbuni oleh tanaman dan pepohonan, taman tersebut pada malam itu cukup banyak pengunjungnya. Hal ini bisa dilihat dari deretan mobil yang diparkir di sisi taman, beberapa pedagang makanan dan tentu saja beberapa turis yang duduk-duduk di sekeliling taman (namun tidak ada yang berfoto-foto sama sekali, like us do). Mungkin kalau siang kami akan mendapatkan beberapa foto yang bagus sehubungan dengan adanya cahaya matahari, namun pastinya harus dibayar dengan panasnya terik matahri karena di bagian tengah taman, tidak ada pohon peneduh sama sekali. Kalau anda sempat dan memeiliki waktu berlebih sebelum pulang ke tanah asal anda, mungkin singgah sebentar di taman ini merupakan salah satu pilihan yang bijak.

November 20, 2008

Lagi, Cita Rasa Kuliner Bali : Nasio Sio Bak

Filed under: Bali — lomardasika @ 4:38 am

Malam pun tiba dan saatnya bagi saya untuk mengisi perut yang keroncongan (sebenarnya sich nggak terlalu keroncongan, tapi berhubung masih di Bali, boleh donk diisi lagi dengan satu jenis makanan lagi yang enak dan khas Bali; Saya dan teman sampai mencari-cari lokasi makanan ini, takut penasaran sampai di Jakarta, begitu katanya). Sekali lagi, bersama Titiles, Nasi Lawar (saya nggak nyoba!) dan Babi Guling, makanan ini mengandung babi sehingga haram untuk dikonsumsi oleh teman-teman yang Muslim. Namun buat info aja, Nasi Sio Bak ini cukup populer di Bali, bersanding dengan Babi Guling. Komposisinya pun sebenarnya hampir serupa karena mayoritas berisi daging babi dari berbagai penjuru tubuh babi, sedikit lemak, dan kerupuk babi. Perbedaanya, Sio Bak ini basah karena berkuah (kuah kental yang eni bengi alias enak banget!). Walaupun berdaging babi total, Sio Bak ini juga sehat karena siraman kuah kari babinya mengandung sayur seperti wortel, jamur dan mentimun sebagai acar. Ya, Sio Bak ini termasuk salah satu makanan yang highly recommended ketika anda berkunjung ke Bali.
Jangan bayangkan makanan ini terletak di restoran mahal atau di dalam hotel bintang sekian karena anda bisa mendapatkan Sio Bak ini di kedai pinggir jalan (rumah makan semi terbuka dengan kipas angin). Untuk satu orang, saya hanya membayar RP. 14.000 saja. Suatu harga yang, menurut saya, sangat sesuai untuk apa yang didapatkan. Penjual Sio bak cukup banyak di Bali namun yang saya kunjungi ini terletak di dekat Jalan Teuku Umar, di dekat pasar lama Denpasar (Saya lupa nama jalannya). Untuk menuju kesini, anda pasti akan melewati deretan toko-toko lama khas jaman dahulu yang sekaligus akan mengingatkan anda akan suasana di era tahun 1940-1950 an.

Older Posts »

The Banana Smoothie Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.